Pesona Ujung Makasar “BONE”

“apa kareba? Baji-baji” demikian ramah sapa jika anda mengijakkan kaki ke sulawesi selatan, Makasar.
Kami bergerak dari bandara Iskandar Muda kota Banda Aceh dengan tujuan keberangkatan Sulawesi Selatan, Makasar. Untuk mencapai kesana kami harus transit terlebih dahulu di Bandara kota Medan kemudian transit kedua di Bandara Soekarno Hatta dan bandara ketiga yang menjadi tujuan perjalanan kali ini yaitu Bandara Sultan Hasanuddin Makasar. Bandara sultan hasannudin merupakan bandara internasional yang ada di sulawesi selatan, perjalanan ini tidak terfokus dikota makasar ini, karna kami ingin pergi ke ujung kota sulawesi selatan ini, bagian teluk dari pulau sulawesi ini, yaitu Kota Watampone, Kabupaten Bone. Untuk menuju Ke kabupaten Bone akan menghabiskan waktu sekitar enam jam dari bandara Sultan Hasanuddin, kami menggunakan angkutan umum sejenis mini bus atau bentuknya hampir menyerupai bus sekolah. Perjalanan kami berlangsung malam hari, sehingga mata kami belum melihat keindahan sepanjang perjalanan menuju kabupaten bone.

167446_1568506851480_6441257_nBandara Sultan Hasanuddin

Kota Watampone, Kab Bone
Matahari sudah menampakkan sinarnya, kami dengan semangat bangun ingin melihat keunikan Kabupaten Bone yang tepatnya kami berada di kota watampone. Pagi itu kami mencari sarapan, kami menghampiri warung kecil yang berada tak jauh dari wisma tempat kami menginap. Warung tersebut menyediakan nasi yang dimasak dengan rempah-rempah sampai warna nasi menjadi kemerahan, rasanya cukup unik dan ini cukup mengenyangkan dengan porsi yang tidak banyak, dengan ditemani secangkir teh hangat. Saat sarapan, ibu penjual nasi cukup ramah, kami pun bertanya-tnya tentang kabupaten bone, si ibu menjelaskan, di tengah taman sana, ada icon nya Kabupaten Bone, yaitu Raja Bone. Dengan semangat kami akan mengawali perjalanan ini dimulai dengan melihat icon tersebut. Energi sudah mulai terkumpul, Setelah menyantap sarapan, tentu perjalanan lebih bersemangat, untuk menikmati kota, kami melihat ada kendaraan yang dapat dnaiki dua orang, yaitu Becak dayung, kami berkeliling menggunakan becak dayung becak ini tak sama seperti yang ada di aceh, di aceh, becak kami menggunakan sepeda motor, sehingga di sebut becak mesin, becak yang ada di kota watampone ini hampir sama dengan becak dayung yang ada di jawa, sang supir berada dibelakang dan kami duduk di depan tapi dengan ukuran yang lumayan besar. Kami dihantarkan ke sebuah taman, di tengan taman tersebut terdapat patung besar, dengan tinggi kurang lebih 7-10 meter atau bisa lebih, berwarna coklat, berdiri dengan gagahnya, memegang tongkat seakan sedang menjadi benteng agar warga Bone tetap aman dan jauh dari gangguan, dan adalah patung raja bone atau patung Arung Palakka, menurut cerita ia adalah salah seorang pemimpin Bone, yang memimpin warga Bone dengan baik, sehingga tersebutlah Raja Bone.
Setelah melihat kegagahan sang patung, hari pun mulai menjelang siang, tentu yang menjadi incaran ketika kita berada di luar kota adalah kulinernya, kami berjalan tapak menyusuri jalan di kota watampone, ada beberapa warung yang sedang mengipas-ngipas ikan bakar di atas arang dan juga terdapat rak yang bertuliskan “coto makasar” . dan kami pun menghampiri salah satu warung. Saya sudah memesan ikan bakar, karna melihat lezatnya ikan yang baru saja siap dibakar. Sedangkan teman saya memesan coto makasar ternyata coto makasar sendiri terdiri beberapa pilihan daging, ada daging kuda maupun daging sapi dan teman saya memilih daging sapi. Untuk memakan coto ini di dampingi ketupat dan jeruk nipis untuk diperas di coto terebut, hampir sama seperti soto lainnya, yang membedakan coto makasar memiliki warna yang sedikit gelap dan dimakan dengan lontong ketupat bukan dengan nasi hangat.

Pesona Tanjung Palette
Usai makan siang, sholat dhuhur dan istirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalan menuju tanjung yang terletak di pesisir kabupaten bone, warga menyebutkan tanjung tersebut merupakan objek wisata yang sering dikunjugi turis. Dengan meggunakan mobil avanza yang kami sewa, tujuan wisata tersebut berjarak kurang lebih 12 km dari pusat kota watampone, sepanjang perjalanan kami melihat rumah adat warga kabupaten bone, rumah-rumah berbaris rapi baik disisi kiri dan kanan , rumah-rumah tersebut memiliki atap runcing keatas, nama rumah adat tersebut yaitu rumah Toraja. Adapun beberapa pemilik rumah sudah merenovasinya dengan memperluas bagian belakang rumah dengan dinding beton atau dikombinasi dengan rumah modern.
Setiba di parkir taman wisata tersebut, kami di sambut dengan tulisan pada dinding kuning bertuliskan “selamat datang di palette”. Belum terlihat keindahan dari tempat wisata ini, orang masuk kedalam, seakan didalam sana, dibalik pepohonan besar ada sesuatu yang pasti mengejutkan para wisataan, dikarenankan tempat ini sering menjadi bauh bibir tentang keindahan dermaga yang ada ditanjung palette ini. Untuk menuju dermaga pada tanjung palette kita berjalan tapak menurun kebawah dan benar-benar dikejutkan dengan keindahan Tanjung Palette dengan langit yang biru, laut yang tenang dan terdapat bukit karang di tepi Tanjung Palette ini. Sungguh tempat yang sangat indah, dengan latar langit biru, hamparan laut yang biru, tampak kapal-kapal kecil sedang berlayar di laut biru, seakan mengena dinding langit biru, beberapa turis mengabadikan moment lewat foto. bagia sisi kiri terdapat penginapan yang berada di atas bukit karang, teman saya menaiki bukit karang dan mengambil foto saya dan teman lainnya yang berada di dermaga tanjung pallete. Puas menikmati keindahan tanjung palette hiingga sore hari, kami pun beranjak pulang.

282553_4155935375576_780121469_ndermaga tanjung pallete

Perjalanan pulang, driver kami melawati jalan lain yang juga akan tembus ke kota watampone, tapi ada yang beda, kami tidak melihat rumah ada seperti tadi, kami melihat tambak berjajaran, dan ternyata itu semua adalah tambak kepiting, warga Kabupaten Bone juga membudidayakan kepiting yang super terkenal enaknya, yaitu kepiting asoka. Tapi kami tidak bisa menikmati kuliner hebat itu, dikarenakan keesokan paginya kami harus berangkat ke kota makasar lagi dan kembali ke Aceh.

Advertisements

GAYO HIGH LAND

Ke danau laut tawar Takengon mungkin menjadi tujuan utama kalau wisata asing dan lokal datang ke kota dingin tersebut, dan hampir semua wisatawan sudah datang ke danau lut tawar… ” lut tawar dah pernah,”,  so,, mari kita kunjungi yang lain,,

Saya dan sahabat2 masih berada di pusat kota, ketika sedang di pusat kota,, dan matahari mulai naik,, ada yang silau di ujung bukit sana,,, “tuinggggg” ada tulisan kecil menyilaukan,, tulisan tampak kecil dikarenakan posisi saya jauh dengan tulisan itu,, bukit itu menunjukkan kegagahannya,,, hmmm mintta di daki tu bukit,,,mari kita diskusikan dulu,, “uyyy,, kemana kita ni? “ masih berdiri  clingak clinguk,, ,, karna penasaran sama yang silau tadi,,, mari kita tanyakan,,, “bensu,, itu tulisan apaa  ben”  Tanya saya sama sambil menujuk kearah atas bukit,,,,  mata bensu pun tertuju ke tulisan yang makin silau itu,, “ohh ituu,, itu GAYO HIGH LAND ka,,” … terangnya,, “ oh,,,, kesana kita ya,,, gratis kan” hehehehhehe,, tetep…

Matahari pun mulai menemani,, angin tak sehangat mataharii angin tetap dingin dengan kebiasaannya di kota ini, tanpa basa basi.. mari kita melaju kesanaa,, karna doyan makan,, mari kita jajan dulu,, batagor, wafer, dan kawan2nya,,, perjalanan menuju kesana  pastinya menanjak karna kita ke bukit bukan ke laut..,, setelah melewati jembatan yang di belah oleh sungai kecil yang bersumber dari lut tawar,, saya mengikuti bensu yang menuntun kami ke bukit itu,, “wahh jalannya bagus” tiba tiba bensu belok kanan… “wahhhh,, jalannya ,, banyak batuu…. Ada yang gedek ada yang kecil” heheh,, sekejap ja,, kemudian berselang jalan berbatu jumpa jalan aspal lagi,,, batu lagi,, aspal lagii,, mendaki lagiii,,, menurun lagiii,,, dan akhirnya jeng jeng jeng….  sampek di bukit pertama,, whattt.. belum sampek GAYO HIGH LAND,,, -__- … “kemana tulisa tu ben” Tanya saya sama sang beru gayo,, kesituuu telunjuk bensu mengarak ke gunungan tanah agak kemerahan kira kira 45 derajat posisi menanjak bukit itu,, yang penting jangan siku-siku,,

Oke,, kita istirahat disini,,, disini tempat biasanya para photographer ngambil view nya tanah gayo,,, “lihat itu” bensu menunjukkan hamparan danau lut tawar, pegunungan dan beberapa petak sawah,, seperti lukisan alam yang menakjubkan.

Gambar

Bukit pertama,, maaf viewnya kebanyaan kami,, karna kami juga mau eksis dengan keindahan alam,,, hihih 😀

Beberapa pemuda datang sama gengnnya,, kyaknya anak kuliahan gitu,,, “eh,, aku kenal anak itu” teriak minah ngasih tau kami ,, ntah iya kenal ntah memang kenal.. “dek,, anak rimba raya ya”,, teriak minah ke si adek.. si adek yang sok imut karna di panggil oleh si kakak yang merasa lebih tua,, nunduk,, gak brapa ngerespon,, minah tetep kekeh,, anak itu satu kampung sama dy,, heheh,, sabaarr  min,, iyaa,,iya satu kampung sama minah dyyy,, tenanggg,, ;)..  dan anak muda ini pun pada naik ke bukitt itu,, motornyapun seperti berdiri,, karna bukit yang menanjak,, “eh,, serius kita naikk,, gak licin tu,,” saya agak ragu,,, agak ragu sama takut mank adek kaka,, :D… setelah anak muda tadi pada naik.. kmi juga yang udah sok tua ikutan naikk,,, agak licin,,,, setelahh naikk agak lama,, bertemu bukit datarr,, beberapa detik kemudian bukit menurun… wah wah,, tangan olah raga sama remm,, truss naikk lagiii,,, turunn lagi,, daannnnnn jeng jeng jeng,,, sebuah lempengan besi berdiri didepan kami,, lempengan besi dengan pola huruf yang di susun rapi,, karna pendaki berdiri di belakang huruf huruf  itu,, jadi bacanya dari kanan bukan dari kiri kayak baca tulisan arab,, dan huruf itu menjadi kumpulan kata bahasa Inggris,, GAYO HIGH LAND dalam bahasa indonesianya adalah  Dataran Tinggi Gayo… wahhhhhhhhhh,,,, mantaapp,, semuanya terlihat dari ketinggian ini,,, 😀  kalau kata bensu, kita kayak liat peta takengon,, dari sini semua Nampak,, :D… sebelah kanan terlihat hamparan danau laut dawar yang hijau dan gunung menjulang tinggi,,, bagian kiri  hamparan rumah warga kota dingin ini,,

Gambar

Di antara huruf2 Gayo High Land

Gambar

sisi kanan dari ketinggian GHL

Bukit Sabun

Kalau bukan karena tes pekerjaan itu, saya gak bakalan sampek ke kota dingin ini dengan terencana setelah tujuh tahun yang lalu ketika rekreasi SMA, yuppp,,, kota dingin yang ada di Provinsi aceh di bagian aceh tengah yaitu TAKENGON, semenjak pengumuman heboh,, yang kepikir bukan tes nya,, tapiiii saya bakalan ketemu sahabat  dan berwisata  di kota penuh bukit itu… 😀

Oke, jadi, kita mulai dari saya tiba di sebuah bukit yang nama nya seperti nama produk kecantikan, yaitu bukit  SABUN, tapi jangan bayangin bahwa di bukit itu penuh dengan sabun, dan anak-anak pada pelesetan dengan sabun batang dari ujung bukit ke pinggiran bukit, itu Cuma nama alamat rumah sahabat saya, dari hasil wawancara sama penumpang yang semobil sama saya,  orang takengon bilangnnya bukit sabun yang kayaknya di singkat dari nama lengkapnya tu bukit, yaitu Desa Bukit  dan Simpang Sabun, nah itu lah nama KTP bukit itu,,

Tiba di simpang sabun, saya ngerasa saya adalah gadis yang paling eksotik karna saya gak merona pipi, karena orang-orang disana semua pipinya merah merona karena kedinginan, oke sippp apa saya bakal merona dan berubah kayak cewek korea yang cantik dengan pipi merah merona tapi gak mau oplas.  Akan kita lihat beberapa hari kemudian.

Beranjak menuju rumah sahabat, tanpa basa basi saya menyapa ibu-ibu,, “inee……….” hahah sedikit sok akrab panggil ibu-ibu yang ada di depan rumah sahabat saya  dengan  suara  cempreng, ine  adalah sebutan ibu/mama  di takengon, jadi dengan sok akrab saya panggil ibunya bensu ine , 😀 “ine, ada bensu ?” bibir udah mulai gemeteran kayaa hawa dingin udah menggelitik kesekujur tubuh . Kayaknya ine masih kenal saya, dulu saya pernah sekali kerumah bensu, Cuma nyetor muka trus langsung pulang… semoga ine senang atas kedatangan saya :D… senyumnya hangat. saya nyalamin tangan ine, dengan ramah ine pun menyapa saya, “capek ya” sapanya ke saya,, beuh,,, hangat deh… ine pun ngelirik kerumahnnya jelas nyariin anaknnya, karna anaknya sahabat saya… “liaaaa, ada kawanmu ni” ini translitnya ya, sebenarnya ine bensu manggilnya pakek bahasa takengon,, tapi saya gak inget,, gak inget sama gak bisa beda tipis ya,, 😀 pokoknya artinya itu la,,, 😀

Setelah nyalamin ibu-ibu yang mau pergi ngaji termasuk ine, saya langsung nyungsep ke rumah bensu, gak sadar diri masuk rumah orang..  “bensuuuuuuu” hebohh kegirangan karna udah lama gak jumpa.. setelah perjumpaan itu yang di bahas adalah nostagila selama kuliah, ngekos bareng, pengalaman bareng dan segala hal,  tapi itu kegemaran cewek2 kalo udah jumpa.

saya tiba sehari sebelum tes kerja, jadi saya bisa berwisata ke beberapa tempat wisata yang ada di takengonnnn cihuyyyyyyyyy… 😀 jelas makin girang,  karna tes ini ada khusus jurusan saya, tentu ada shabat saya di kampus yang juga ikutan tes, tpi di sisi lain juga pengen reuni,, 😀  ,, sebenarnya lengkap banget jika empat  sahabat saya lainnya hadir,, karna saya dan mereka paling suka ngabisin hari libur ngunjungi semua tempat wisata yang pastinya wisata gak pakek tiket.. 😀 … untuk kali ini Cuma  dua sahabat yang ikutan ujian ini, ikut ujian brarti ikut berwisata,, 😀  yaitu  rika dan mina, sedangkan yus dan sri  gak bisa ikutan karna hal lain.  karna kami doyan banget berwisata, tanpa disuruh berhadir lebih awal, pagi itu rika dan mina pun nyampek di rumah bensu dari tempat rantau mereka Banda Aceh.

Image

di desa Bukit Sabun 😀

Setelah sarapan, kami mulai bersiap-siap. Kita bakalan keliling takengon,, tapi mampir lokasi ujian sekejap, setelah ke lokasi pura-pura amnesia kalo besok gak ujian.. hihihi